Dinas Kesehatan Provinsi NTT Bergerak Cepat, Perkuat Surveilans Penyakit Pasca Gempa di Kabupaten Sikka

26 August 2026 | Oleh: Admin Dinkes NTT

Maumere, 21 Agustus 2026 – Pasca gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang wilayah Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka terus memperkuat kewaspadaan terhadap potensi peningkatan penyakit menular dan Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pelaksanaan Penyelidikan Epidemiologi dan Pelacakan Kontak Penyakit Potensial KLB/Wabah, termasuk Penyakit Infeksi Emerging dan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) di Kabupaten Sikka pada 18–21 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Maria Y. V. Mau Leon, SKM dan Stefanie Gracia Bale, S.KM, dengan melakukan koordinasi dan pemantauan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, puskesmas, pos kesehatan, serta unsur terkait di wilayah terdampak bencana.



Waspadai Risiko Penyakit di Tengah Kondisi Pascabencana

Gempa bumi tidak hanya menimbulkan dampak berupa korban jiwa, cedera, dan kerusakan fasilitas kesehatan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Kepadatan pengungsian, keterbatasan air bersih dan sanitasi, kondisi lingkungan yang berubah, serta meningkatnya interaksi antarindividu menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Di Kabupaten Sikka, seluruh kecamatan (21 Kecamatan) terdampak gempa, dengan Kecamatan Palue menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat. Hingga 20 Agustus 2026, tercatat 6 orang meninggal dunia, 25 orang mengalami luka berat/rawat inap, dan 28 orang mengalami luka ringan/rawat jalan. Selain itu, sebanyak 17 puskesmas dan 7 pustu mengalami kerusakan. Situasi tersebut mendorong penguatan surveilans kesehatan agar setiap peningkatan kasus dapat diketahui sedini mungkin.



15 Ribu Lebih Pengungsi Memerlukan Perhatian Kesehatan

Data per 20 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 15.093 orang pengungsi dari 4.020 KK, sementara jumlah penduduk terdampak mencapai 350.715 orang. Dalam kondisi pengungsian, penyakit yang berkaitan dengan kepadatan hunian, kebersihan lingkungan, air dan sanitasi menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, pemantauan penyakit dilakukan secara rutin melalui puskesmas dan pos kesehatan yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat terdampak.

Berdasarkan data kunjungan puskesmas per 21 Agustus 2026, tercatat 625 kunjungan dengan lima penyakit terbanyak, yaitu ISPA sebanyak 90 kasus, hipertensi 69 kasus, gastritis 54 kasus, common cold 36 kasus, dan DKA 16 kasus. Sementara itu, pemantauan di pos kesehatan menunjukkan ISPA dan diare menjadi penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus karena menunjukkan peningkatan kasus.



ISPA dan Diare Menjadi Fokus Kewaspadaan

Peningkatan kasus ISPA dan diare diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan di lokasi pengungsian, antara lain kepadatan penghuni, keterbatasan akses air bersih dan sanitasi, ketersediaan toilet dan sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS), serta pengelolaan makanan dan lingkungan yang masih perlu diperkuat. Karena itu, tim kesehatan melakukan pemantauan trend penyakit secara harian untuk melihat pola perkembangan kasus dan mendeteksi kemungkinan peningkatan yang tidak biasa.

“Pemantauan kasus secara harian menjadi sangat penting dalam situasi pascabencana. Data yang cepat dan akurat menjadi dasar bagi petugas kesehatan untuk menentukan langkah respons dan mencegah berkembangnya penyakit menjadi KLB/wabah,” demikian salah satu fokus kegiatan penyelidikan epidemiologi di Kabupaten Sikka.



Perkuat Surveilans dan Respons di Lapangan

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim melakukan pemantauan situasi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Magepanda dan Puskesmas Wolomarang, serta di Posko Pengungsian Gelora Samador.

Selain melakukan penemuan dini kasus dan identifikasi faktor risiko, tim juga memperkuat pelaporan penyakit, melakukan pemantauan kasus di pos pengungsian, serta mengikuti evaluasi data harian dan penyusunan rilis situasi kesehatan pascabencana di Posko HEOC Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bersama Pusat Krisis Kesehatan. Pengumpulan data penyakit dari pos pelayanan juga dilakukan secara berkelanjutan, kemudian dianalisis untuk memberikan gambaran perkembangan situasi kesehatan secara cepat.



Pencegahan Dimulai dari Perilaku Sehat

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan risiko penularan penyakit, diantaranya pemeriksaan dan pengobatan di pos pengungsian, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penggunaan masker untuk mencegah penularan ISPA, edukasi pengelolaan sampah dan perilaku tidak merokok, pembagian masker, serta upaya pengendalian penyakit menular berbasis lingkungan.

Masyarakat di lokasi pengungsian juga terus diingatkan untuk mencuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih, menjaga kebersihan makanan dan lingkungan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gejala gangguan pernapasan.



Kewaspadaan Bersama untuk Mencegah KLB/Wabah

Dinas Kesehatan Provinsi NTT bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka terus mendorong penguatan surveilans dan pemantauan harian, khususnya terhadap ISPA dan diare, serta penyakit lain yang berpotensi menimbulkan KLB/wabah. Koordinasi antara puskesmas, pos kesehatan, Dinas Kesehatan, rumah sakit, serta lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan setiap kasus dapat ditemukan, ditangani, dan ditindaklanjuti secara cepat.



Pascabencana bukan hanya tentang memulihkan sarana dan prasarana, tetapi juga memastikan masyarakat tetap terlindungi dari ancaman penyakit. Dengan surveilans yang kuat, data yang cepat dan akurat, serta respons yang tepat, risiko KLB/wabah dapat dicegah sejak dini.

#DinkesNTT #SurveilansKesehatan #PenyelidikanEpidemiologi #PelacakanKontak #Pascabencana #KabupatenSikka #KLB #Wabah #NTT #DasaCita #AyoBangunNTT


Oleh: Stefanie Gracia Bale, S.KM